Kamis, 19 Juli 2012

Hakekat Bimbingan dan Konseling di SD


Kegiatan Belajar 1
       Dalam bahan belajar mandiri pertama ini, Anda akan diperkenalkan dengan konsep  Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar. Pembahasan akan difokuskan pada konsep dasar bimbingan dan konseling perkembangan; bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar; Prinsip, Fungsi dan Azas Bimbingan; serta Jenis, Teknik/ Strategi dan Kode Etik Bimbingan.
Setelah Anda membaca bahan belajar mandiri ini, diharapkan Anda dapat :
1.      Merumuskan dengan kalimat sendiri tentang konsep dasar bimbingan dan konseling.
2.      Menguraikan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
3.      Menjelaskan Prinsip, Fungsi dan Azas Bimbingan.
4.      Menjelaskan Jenis, Teknik/ Strategi dan Kode Etik Bimbingan.

Ruang Lingkup Materi :
1.  Konsep dasar bimbingan  dan konseling.
2.   Pendekatan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
3.   Prinsip, Fungsi dan Azas Bimbingan.
4.   Jenis, Teknik/ Strategi dan Kode Etik Bimbingan

Petunjuk Belajar :
Agar Anda Memahami isi bahan belajar mandiri ini dengan baik, perhatikan petunjuk berikut :
1.  Bacalah keseluruhan isi bacaan bahasan dalam kegiatan belajar ini secara menyeluruh terlebih dahulu.
2. Setelah itu, Anda diharapkan secara lebih cermat dan penuh perhatian mempelajari bagian demi bagian dari kegiatan belajar ini, dan bila perlu berilah tanda khusus pada bagian yang Anda anggap penting.
3. Apabila ada bagian yang tidak atau kurang Anda mengerti maka berilah tanda lain dan catat dalam buku catatan Anda untuk dapat Anda tanyakan pada waktu ada tutorial tatap muka.
4. Buatlah kesimpulan dalam kata-kata Anda sendiri dari keseluruhan bahan yang Anda baca dalam bahan belajar mandiri ini.
5.  Akhirnya kerjakanlah latihan dan tes formatif yang tersedia. 
Pendekatan Perkembangan dalam Bimbingan
 
1.      Konsep Dasar Bimbingan
Bimbingan merupakan sebuah istilah yang sudah umum digunakan dalam dunia pendidikan. Bimbingan pada dasarnya merupakan upaya bantuan untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal. Selain itu bimbingan yang lebih luas dikemukan oleh Good (Thantawi, l995 : 25) yang menjabarkan bimbingan adalah (1) suatu proses hubungan pribadi yang bersifat dinamis, yang dimaksudkan untuk untuk mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang; (2) suatu bentuk bantuan yang sistematis (selain mengajar) kepada murid, atau orang lain untuk menolong, menilai kemampuan dan kecenderungan mereka dan menggunakan informasi itu secara efektif dalam kehidupan sehari-hari; (3) perbuatan atau teknik yang dilakukan untuk menuntun anak terhadap suatu tujuan yang diinginkan dengan menciptakan suatu kondisi lingkungan yang membuat dirinya sadar tentang kebutuhan dasar, mengenal kebutuhan itu, dan mengambil langkah-langkah untuk memuaskan dirinya.
Sementara itu, Supriadi (2004 : 207) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan oleh konselor/ pembimbing kepada klien agar klien dapat : (1) memahami dirinya, (2) mengarahkan dirinya, (3) memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, (4)  menyesuaikan diri dengan lingkungannya (keluarga, sekolah, masyarakat), (5) mengambil manfaat dari peluang-peluang yang dimilikinya dalam rangka mengembangkan diri sesuai dengan potensi-potensinya, sehingga berguna bagi dirinya dan masyarakatnya.
Bimbingan dan Konseling yang berkembang saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Bimbingan dan Konseling perkembangan bagi anak adalah upaya pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya mereka dapat memahami dirinya sehingga mereka sanggup bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan, keluarga dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya. Bimbingan membantu mereka mencapai tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial dan pribadi (Nurihsan & Sudianto, 2005 : 9).
Kebutuhan akan layanan bimbingan di sekolah dasar muncul dari karakteristik dan masalah-masalah perkembangan peserta didik. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan merupakan pendekatan yang tepat digunakan di SD karena pendekatan ini lebih berorientasi pada pengembangan ekologi perkembangan peserta didik. Konselor yang menggunakan pendekatan perkembangan melakukan identifikasi keterampilan dan pengalaman yang diperlukan siswa agar berhasil di sekolah dan dalam kehidupannya.
Dalam pelaksanaan bimbingan perkembangan, guru dapat melibatkan tim kerja atau berbagai pihak yang terkait terutama orang tua siswa, sehingga akan lebih efektif ketimbang bekerja sendiri. Bimbingan Perkembangan dirancang secara sistem terbuka, dengan demikian penyempurnaan dan modifikasi  dapat dilakukan setiap saat sepanjang diperlukan. Bimbingan perkembangan mengintegrasikan berbagai pendekatan, dan orientasinya multi budaya, sehingga tidak mencabut klien dari akar budayanya. Tidak fanatik menolak suatu teori, melainkan meramu apa yang terbaik dari masing-masing terapi dan yang lebih penting lagi mengkaji bagaimana masing-masing terapi bermanfaat bagi klien atau keluarga.
Bimbingan merupakan bagian integral dari pendidikan, maka tujuan pelaksanaan bimbingan merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan pendidikan. Tujuan Pendidikan Nasional adalah menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan GBHN 2003, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi masa depan.
Dari pengertian-pengertian di atas didapatkan kunci dari bimbingan itu sendiri adalah sebagai berikut :
a.  Bimbingan merupakan upaya membantu dengan memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh klian sebagai objek bimbingan.
b. Bimbingan dilakukan dengan cara menuntun dan mengarahkan seseorang untuk dapat mengambil keputusan yang tepat untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
c.    Bimbingan diberikan kepada satu orang atau lebih melalui tatap muka langsung.
Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling perkembangan adalah upaya pemberian bantuan yang dirancang dengan memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan isu-isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan anak dan merupakan bagian penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan.
Myrick dalam Muro & Kotman, l995 yang diperjelas kembali oleh Sunaryo Kartadinata (1998 : 15) dan Ahman (2005 : 11-34) mengemukakan empat pendekatan dapat dirumuskan sebagai pendekatan dalam bimbingan, yaitu pendekatan (a) krisis, (b) remedial, (c) preventif, (d) perkembangan.
 Dalam pendekatan krisis, pembimbing menunggu munculnya suatu krisis dan dia bertindak membantu seseorang yang menghadapi krisis itu. Teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara “pasti” dapat mengatasi krisis itu. Contoh : Seorang anak datang mengadu kepada guru sambil menangis karena didorong temannya sehingga tersungkur ke lantai. Pembimbing yang menggunakan pendekatan krisis akan meminta anak itu membicarakan penyelesaian masalahnya dengan teman yang mendorong dia ke lantai. Bahkan mungkin pembimbing atau guru tersebut memanggil teman anak itu untuk datang ke kantornya untuk membicarakan penyelesaian masalah itu.
Di dalam pendekatan remedial, guru akan memfokuskan bantuannya kepada upaya menyembuhkan atau memperbaiki kelemahan-kelemahan yang tampak. Tujuan bantuan dari pendekatan ini ialah menghindarkan terjadinya krisis yang mungkin terjadi. Berbagai strategi bisa digunakan, seperti mengajarkan kepada siswa keterampilan tertentu seperti keterampilan belajar (membaca, merangkum, menyimak, dll) , keterampilan sosial dan sejenisnya yang belum dimiliki siswa sebelumnya. Dalam contoh kasus di atas, dengan menggunakan pendekatan remedial, guru dapat mengambil tindakan mengajarkan keterampilan berdamai sehingga siswa tadi memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah-masalah hubungan antarpribadi. Keterampilan berdamai adalah keterampilan yang selama ini belum dimiliki kedua siswa tersebut dan merupakan kelemahan yang bisa memunculkan krisis itu.
Pendekatan preventif mencoba mengantisipasi masalah-masalah generik dan mencegah terjadinya masalah itu. Masalah-masalah yang dimaksud seperti putus sekolah, berkelahi, kenakalan, merokok dan sejenisnya yang secara potensial masalah itu dapat terjadi pada siswa secara umum. Model preventif ini, didasarkan kepada pemikiran bahwa jika guru atau pembimbing dapat mendidik siswa untuk menyadari bahaya dari berbagai kegiatan dan menguasai metode untuk menghindari terjadinya masalah itu, maka pembimbing akan dapat mencegah siswa dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan tersebut. Berbagai teknik dapat digunakan dalam pendekatan ini termasuk mengajar dan memberikan informasi. Dalam contoh kasus di atas, jika guru menggunakan pendekatan preventif dia akan mengajari siswa untuk bersikap toleran dan memahami orang lain sehingga dapat mencegah munculnya perilaku agresif, tanpa menunggu munculnya krisis terlebih dahulu.
Pendekatan perkembangan merupakan pendekatan yang lebih mutakhir dan lebih proaktif dibandingkan dengan ketiga pendekatan sebelumnya. Pembimbingan yang menggunakan pendekatan ini beranjak dari pemahaman tentang keterampilan dan pengalaman khusus yang dibutuhkan siswa untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan di dalam kehidupan. Pendekatan perkembangan ini dipandang sebagai pendekatan yang tepat digunakan dalam tatanan pendidikan sekolah karena pendekatan ini memberikan perhatian kepada tahap-tahap perkembangan siswa, kebutuhan dan minat, serta membantu siswa mempelajari keterampilan hidup ( Robert Myrick, l989). Berbagai teknik dapat digunakan dalam pendekatan ini seperti mengajar, tukar informasi, bermain peran, melatih, tutorial, dan konseling. Dalam contoh di atas, jika guru menggunakan pendekatan perkembangan dia sebaiknya menangani anak tadi sejak tahun-tahun pertama masuk sekolah, mengajari dan menyediakan pengalaman belajar bagi anak itu yang dapat mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi yang diperlukan untuk melakukan interaksi yang efektif dengan orang lain. Oleh karena itu, di dalam pendekatan perkembangan, keterampilan dan pengalaman belajar yang menjadi kebutuhan siswa akan dirumuskan ke dalam suatu kurikulum bimbingan atau dirumuskan sebagai Layanan Dasar Umum.
Tampak bahwa di dalam pendekatan perkembangan akan tercakup juga pendekatan-pendekatan lain. Pembimbing yang melaksanakan pendekatan perkembangan sangat mungkin juga melakukan intervensi krisis, pekerjaan remedial, mengembangkan program pencegahan, dan menggunakan kurikulum bimbingan yang yang komprehensif. Upaya bantuan yang diberikan terarah kepada pengembangan seluruh aspek perkembangan yang mencakup pribadi, sosial, akademik dan karir.
Ada pola umum dalam proses perkembangan siswa. Oleh karena itu, perkembangan berlangsung dalam tata urutan tertentu. Dalam teori psikologi, tata urutan itu dirumuskan sebagai tugas-tugas perkembangan. Tugas perkembangan diartikan sebagai perangkat perilaku yang harus dikuasai siswa dalam periode kehidupan tertentu, di mana keberhasilan menguasai perangkat perilaku pada periode kehidupan tersebut akan mendasari keberhasilan penguasaan perangkat perilaku dalam periode berikutnya; sedangkan kegagalan menguasai perangkat perilaku dalam periode  kehidupan sebelumnya akan membawa siswa ke dalam kekecewaan, penolakan masyarakat, dan kesulitan di dalam menguasai perangkat perilaku pada periode kehidupannya berikutnya. Contoh sederhana ialah bahwa keterampilan membaca, menulis, dan berhitung sudah harus dikuasai siswa pada kelas-kelas awal. Keberhasilan siswa menguasai keterampilan dasar ini akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari mata-mata pelajaran kelas-kelas yang lebih tinggi. Sedangkan kegagalan siswa dalam menguasai hal tersebut akan menimbulkan kesulitan dan kekecewaan siswa dalam mempelajari atau menguasai mata pelajaran di kelas-kelas yang lebih tinggi. Bahkan lebih jauh dari itu, kegagalan tadi bisa membawa kepada munculnya perilaku bermasalah pada siswa. Perkembangan pada usia siswa SD terarah kepada pemerolehan perilaku yang berkaitan dengan sikap, kebiasaan, dan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai bagian dari lingkungan dan memiliki kecakapan tertentu yang berbeda dari orang lain.
Dalam pendekatan perkembangan, perolehan perilaku yang diharapkan terbentuk pada siswa perlu dirumuskan secara komprehensif dan rumusan itu akan menjadi dasar bagi pengembangan program bimbingan. Esensi strategi untuk membantu siswa mengembangkan dan menguasai perilaku yang diharapkan tersebut terletak pada pengembangan lingkungan belajar, yakni lingkungan yang memungkinkan siswa memperoleh perilaku baru yang lebih efektif. Di dalam lingkungan belajar inilah dikembangkan peluang, harapan, pemahaman, persepsi yang memungkinkan siswa memperkuat dan memenuhi kebutuhan dan motif dasar mereka, atau mungkin mendorong siswa untuk mengubah atau menyesuaikan kebutuhan dan motif dasar kepada perilaku dan nilai-nilai yang berkembang di dalam lingkungan belajar. Di dalam konsep bimbingan perkembangan lingkungan belajar seperti digambarkan di atas dirumuskan ke dalam konsep lingkungan perkembangan manusia atau ekologi perkembangan manusia.
Dalam suatu lingkungan perkembangan akan mengandung unsur-unsur berikut  :
Pertama, unsur peluang. Unsur ini berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan siswa mempelajari perilaku-perilaku baru. Di sekolah dasar keterpaduan topik seperti ini lebih diutamakan mengingat pelaksanaan layanan bimbingan akan lebih banyak terpadu dengan proses pembelajaran. Hal ini mengandung implikasi bahwa tujuan dan topik-topik yang terkandung dalam kurikulum yang sudah diorganisasikan harus maksimal dan dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan akademik dan tujuan pengembangan pribadi, sosial, karir, keterampilan komunikasi, kemampuan pemecahan masalah, pemecahan konflik, pengembangan konsep diri, dan aspek-aspek lainnya.
Kedua, unsur pendukung. Unsur ini berkaitan dengan proses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk mempelajari perilaku baru baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan kata lain, unsur pendukung ini berkaitan dengan upaya guru dalam pengembangan ; (1) relasi jaringan kerja yang bisa menyentuh siswa dan memungkinkan siswa mengembangkan kemampuannya, dan (2) keterlibatan seluruh siswa di dalam proses interaksi.
Ketiga, unsur penghargaan. Esensi unsur ini terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukkan perilaku baru. Penilaian dan balikan ini perlu dilakukan sepanjang proses bimbingan berlangsung; diagnosis dilakukan untuk mengidentifikasikan kesulitan yang dihadapi siswa, dan perbaikan serta penguatan (reinforcement), dilakukan untuk membentuk pola-pola baru yang diutarakan pada unsur peluang di atas.
Agar pengembangan lingkungan belajar dan layanan bimbingan dapat diberikan secara sistematik perlu dikembangkan atau dirumuskan program bimbingan.


2.      Asumsi BK Perkembangan
Model bimbingan perkembangan memungkinkan konselor untuk memfokuskan tidak sekedar terhadap gangguan emosional klien, melainkan lebih  mengupayakan pencapaian tujuan dalam kaitan penguasaan tugas-tugas perkembangan, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu, dan meningkatkan sumberdaya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal dari klien (Blocher, 1974:79).
Pendekatan ini juga memiliki asumsi bahwa potensi individu merupakan aset yang berharga bagi kemanusiaan. Dorongan dari dalam ini memerlukan kesepakatan dengan kekuatan dalam lingkungan. Pengembangan kemanusiaan merupakan interaksi individual dimana ia berpijak dengan peraturan, perundangan, dan nilai-nilai yang saling melengkapi.
Menurut Blocher (1974:5) asumsi dasar bimbingan perkembangan, yaitu perkembangan individu akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan lingkungannya. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan bimbingan di sekolah:
1.  Perkembangan adalah tujuan bimbingan; oleh karena itu para petugas bimbingan di sekolah perlu memiliki suatu kerangka berpikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan.
2. Interaksi yang sehat merupakan suatu iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh petugas bimbingan. Oleh karena itu, petugas bimbingan perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus untuk mengembangkan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem peluncuran bimbingan di sekolah (Sunaryo Kartadinata, 1996:10).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar