1. Masalah
: Kesulitan anak dalam belajar
Rumusan
Masalah :
1) Apa
yang dimaksud dengan kesulitan belajar?
2) Karakteristik
anak dalam kesulitan belajar?
3) Apa
factor penyebab kesulitan anak dalam belajar?
4) Cara
mengatasi kesulitan belajar apada anak?
2. Variable
Ø Psikologis
anak
Ø Peran
guru
Ø Peran
orang tua
Ø Lingkungan
3. landasan
teori dan hipotesisnya
Anak
yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau
lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau
tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang
tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis,
mengeja atau menghitung. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh
hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat
psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat
menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Dari
sudut pandang kedokteran, kelambanan anak dalam belajar dianggap berhubungan
erat dengan ketidaknormalan dalam otak. Oleh sebab itu, mereka menjelaskan
adanya luka pada otak, kurang darah, dan ketidaknormalan dalam saraf sebagai
unsur penyebab kelambanan belajar. Dari sudut pandang ahli psikologi, mereka
berusaha menyelidiki masalah dari perilaku dan kejiwaan anak yang lamban.
Mereka menjelaskan adanya gangguan dalam masalah kognitif, yaitu membaca,
menghitung, dan berbahasa.
Karakteristik anak
yang kesulitan belajar
Myklebust
dan Johnson seperti dikutip Hargrove dan Poteet (1984:164) mengemukakan
beberapa ciri anak berkesulitan belajar sebagai berikut :
1) Mengalami
kekurangan dalam memori visual dan auditoris, kekurangan dalam memori jangka
pendek dan jangka panjang;
2) Memiliki
masalah dalam mengingat data seperti mengingat hari-hari dalam seminggu;
3) Memiliki
masalah dalam mengenal arah kiri dan kanan;
4) Memiliki
kekurangan dalam memahami waktu;
5) Jika
diminta menggambar orang sering tidak lengkap;
6) Miskin
dalam mengeja;
7) Sulit
dalam meninterpretasikan globe, peta, atau grafik;
8) Kekurangan
dalam koordinasi dan keseimbangan;
9) Kesulitan dalam belajar berhitung; dan
10) Kesulitan
dalam belajar bahasa asing.
Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Masalah kesulitan belajar ini, tentunya disebabkan
oleh berbagai factor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada anak yang mengalami
kesulitan belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor apa
yang menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar.
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua
golongan, yaitu:
A.
Faktor intern (factor dari dalam diri anak itu sendiri
) yang meliputi:
1)
Faktor fisiologi
Faktor fisiologi adalah factor
fisik dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan
mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami
pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu
kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan
belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan
seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta
cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain
sebagainya.
2)
Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah
berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam
belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah
kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam factor
psikoogis ini adalah intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki
IQ cerdas (110 – 140), atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk
memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90
– 110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya
tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 ataubahkan
dibawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar.
Untuk itu, maka orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki
anak atau anak didiknya. Selain IQ factor psikologis yang dapat menjadi
penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi,
kondisi kesehatan mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.
B.
Factor ekstern (factor dari luar anak) meliputi ;
1)
Faktor-faktor social
Yaitu faktor-faktor seperti cara
mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan
perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup
mendapatkan perhatian, atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu
juga bagimana hubungan orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang
bertemu, atau bahkan terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada
kebiasaan belajar anak.
2)
Faktor-faktor non- social
Faktor-faktor non-sosial yang
dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah factor guru
di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta
kurikulum.
Mengatasi Kesulitan Belajar
Anak yang memiliki keterlambatan kemampuan membaca,
mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-kata
(misalnya huruf atau suara yang seharusnya tidak diucapkan, sisipan,
penggantian atau kebalikan) atau memahaminya (misalnya, memahami fakta-fakta
dasar, gagasan, utama, urutan peristiwa, atau topik sebuah bacaan). Mereka juga
mengalami kesulitan lain seperti cepat melupakan apa yang telah dibacanya.
Sebagian ahli berargumen bahwa kesulitan mengenali bunti-bunyi bahasa (fonem)
merupakan dasar bagi keterlambatan kemampuan membaca, dimana kemampuan ini
penting sekali bagi pemahaman hubungan antara bunyi bahasa dan tulisan yang
mewakilinya. Istilah lain yang sering dipergunakan untuk menyebutkan
keterlambatan membaca adalah disleksia. Istilah ini sebenarnya merupakan nama
bagi salh satu jenis keterlambatan membaca saja. Semasa awal kanak-kanak,
seorang anak yang menderita disleksia mengalami kesulitan dalam mempelajari
bahasa lisan. Selanjutnya ketika tiba masanya untuk sekolah,anak ini mengalami
kesulitan dalam mengenali dan mengeja kata-kata, sehingga pada akhirnya mereka
mengalami masalah dalam memahami maknanya.
Disleksia mempengaruhi 5 hingga 10 persen dari
semua anak yang ada. Kondisi ini pertama kali diketahui pada abad ke sembilan
belas, dimana ketika itu disebut dengan buta huruf (word blindness). Beberapa
peneliti menemukan bahwa disleksia cenderung mempengaruhi anak laki-laki lebih
besar disbanding anak perempuan. Tanda-tanda disleksia tidak sulit dikenali,
bila seorang guru dan orangtua cermat mengamatinya. Sebagai contoh, bila anda
menunjukkan sebuah buku yang asing pada seorang anak penderita disleksia, ia
mungkin akan mengarang –ngarang cerita berdasarkan gambar yang ia lihat tanpa
berdasarkan tulisan isi buku tersebut. Bila anda meminta anak tersebut untuk
berfokus pada kata-kata dibuku itu, ia mungkin berusaha untuk mengalihkan
permintaan tersebut.. Ketika anda menyuruh anak tersebut untuk memperhatikan
kata-kata, maka kesulitan mebaca pada anak tersebut akan terlihat jelas.
beberapa kesulitan bagi anak-anak penderita disleksia adalah sebagai berikut :
a.
Membaca dengan sangat lambat dan dengan enggan
b.
Menyusuri teks pada halaman buku dengan menggunakan
jari telunjuk.
c.
Mengabaikan suku kata, kata-kata, frase, atau bahkan
baris teks.
d.
Menambahkan kata-kata atau frase yang tidak ada dalam
teks.
e.
Membalik urutan huruf atau suku kata dalam sebuah kata
f.
Salah dalam melafalkan kata-kata, termasuk kata-kata
yang sudah dikenal
g.
Mengganti satu kata dengan kata lain, meskipun kata
yang digantikan tidak mempunyai arti dalam konteksnya.
h.
Menyusun kata-kata yang tidak mempunyai arti.
i.
Mengabaikan tanda baca.
Kiat Mengatasi Problem Dysleksia
Kiat Mengatasi Problem Dysleksia
Cara yang paling sederhana, paling efektif untuk
membantu anak-anak penderita dysleksia belajar membaca dengan mengajar mereka
membaca dengan metode phonic. Idealnya anak-anak akan mempelajari phonic di
sekolah bersama guru, dan juga meluangkan waktu untuk berlatih phonic di rumah
bersama orang tua mereka.
Metode phonic ini telah terbukti berpengaruh
terhadap peningkatan kemampuan anak dalam membaca (Gittelment & Feingold,
1983). Metode phonic ini merupakan metode yang digunakan untuk mengajarkan anak
yang mengalami problem dysleksia agar dapat membaca melalui bunyi yang
dihasilkan oleh mulut. Metode ini dapat ssudah dikemas dalam bentuk yang
beraneka ragam, baik buku, maupun software.
Bagi anda orang tua, berikut ini merupakan ide-ide
yang dapat membantu anak anda dengan phonic dan membaca:
1.
Cobalah untuk menyisihkan waktu setiap hari untuk
membaca.
2.
Tundalah sesi jika anak terlalu lelah, lapar, atau
mudah marah hingga dapat memusatkan perhatian.
3.
Jangan melakukan sesuatu yang berlebih-lebihan pada
saat pertama;mulailah dengan sepuluh atau lima belas menit sehari.
4.
Tentukan tujuan yang dapat dicapai : satu hari sebanyak
satu halaman dari buku phonics atau buku bacaan mungkin cukup pada saat
pertama.
5.
Bersikaplah positif dan pujilah anak anda ketika dia
membaca dengan benar. Ketika dia membuat kesalahan, bersabarlah dan bantu untuk
membenarkan kesalahan. Jika dia ragu-ragu, berikan waktu sebelum anda
terburu-buru memberi bantuan.
6.
Ketika anda membaca cerita bersama-sama, pastikan bahwa
anak tidak hanya melafalkan kata-kata, tetapi merasakannya juga. Tanyakan
pendapatnya tentang cerita atau karakter-karakter dalam cerita tersebut.
7.
Mulailah dengan membaca beberapa halaman pertama atau
paragraph dari cerita dengan suara keras untuk memancing anak. Kemudian
mintalah anak membaca terusan ceritanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi
selanjutnya.
8.
Variasikan aktivitas dengan meluangkan beberapa sesi
untuk melakukan permaianan kata-kata sebagai ganti aktivitas membaca, atau
mintalah anak untuk mengarang sebuah cerita, tulislah cerita tersebut, dan
mintalah ia untuk membaca kembali tulisan tersebut.
9.
Jangan membuat sesi ini sebagai pengganti kegiatan
membaca dengan suara keras pada anak anda. Jik anda selalu membacakan cerita
waktu tidur, pertahankanlah itu. Ini akan sangat membantunya mengenal buku
dengan punuh kegembiraan.
10. Berikan
hadiah padanya ketika dia melakukan sesuatu dengan sangat baik atau ketika anda
melihat perubahan yang nyata pada nilai-nilainya di sekolah.
Problem Kesulitan Menulis (Dysgraphia)
Dalam sebuah pelatihan menjadi ahli ilmu kesehatan
anak, terdapat seorang ahli ilmu kesehatan yang bernama Stephen yang tidka
pernah menulis apapun di atas kertas. Ia menggunakan mesin ketik yang dapat
dibawa kemana-mana (portable) untuk segala sesuatu laporan pasien, catatan
singkat. Kemudian diketahui bahwa Stephen memang tidak dapat menulis secara
jelas. seberapapun ia mencoba dengan keras ia tidak dapat menulis apapun dengan
jelas, sehingga dia dan orang lain tidak dapat membaca tulisan tangannya.
Apa yang dialami Stephen merupakan problem
kesulitan menukis (disgraphya). Tentunya disgraphya ini berbeda dengan tulisan
tangan yang jelek. Tulisan tangan yang jelek biasanya tetap dapat terbaca oleh
penulisnya, dan juga dilakukan dalam waktu yang relatif sama dengan yang
menulis dengan bagus. Akan tetapi untuk dysgraphia, anak membutuhkan waktu yang
lebih lama untuk menulis.
Dalam menulis sesuatu kita membutuhkan penglihatan
yang cukup jelas, keterampilan motorik halus, pengetahuan tentang bahasa dan
ejaan, dan otak untuk mengkoordinasikan ide dengan mata dan tangan untuk
menghasilkan tulisan. Jika salah satu elemen tersebut mengalami masalah maka
menulis akan menjadi suatu pekerjaan yang sulit atau tidak mungkin
dilakukan.
Kiat Mengatasi Problem Dysgrapia
Untuk mengatasi problem dysgraphia ini, sangatlah
baik apabila kita belajar dari sebuah kasus anak yang mengalami dysgraphia.
Problem dysgraphia muncul pada Stephen saat sekolah dasar, ia memiliki nilai
yang bagus pada masa-masa awal, akan tetapi kemudian nilainya jatuh dan
akhirnya guru Stephen di kelas V memanggilnya, dan juga memanggil orang tuanya.
Guru tersebut meminta orang tua Stephen untuk mengajari Stephen mengetik pada
mesin ketik yang dapat dibawa kemana-mana (portable). Hasilnya nilai dan
prestasi Stephen meningkat secara tajam.
Sebagian ahli merasa bahwa pendekatan yang terbai
untuk dysgraphia adalah dengan jalan mengambil jalan pintas atas problem
tersebut, yaitu dengan menggunakan teknologi untuk memberikan kesmepatan pada
anak mengerjakan pekerjaan sekolah tanpa harus bersusah payah menulis dengan
tangannya.
Ada dua bagian dalam pendekatan ini. Anak-anak
menulis karena dua alasan : pertama untuk menangkap informasi yang mereka
butuhkan untuk belajar (dengan menulis catatan) dan kedua untuk menunjukkan
pengetahuan mereka tentang suatu mata pelajaran (tes-tes menulis).Sebagai ganti
menulis dengan tangan, anak-anak dapat:
1)
Meminta fotokopi dari catatan-catatan guru atau meminta
ijin untuk mengkopi catatn anak lain yang memiliki tulisan tangan yang bagus ;
mereka dapat mengandalkan teman tersebut danmengandalkan buku teks untuk
belajar.
2)
Belajar cara mengetik dan menggunakan laptop / note
book untuk membuat catatan di rumah dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
3)
Menggunakan alat perekam untuk menangkap informasi saat
pelajaran
Sebagai ganti menulis jawaban tes dengan tangan, mereka dapat :
Sebagai ganti menulis jawaban tes dengan tangan, mereka dapat :
Melakukan tes secara lisan
Mengerjakan tes dengan pilihan ganda.
Mengerjakan tes-tes yang dibawa pulang (take – home
test) atau tes dalam kelas dengan cara menegtik. Bila strategi-strategi di atas
tidak mungkin dilakukan Karena beberapa alasan, maka anak-anak penderita dysgraphia
harus diijinkan untuk mendapatkan waktu tambahan untuk tes-tes dan ujian
tertulis.Keuntungan dari pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini memberikan
perbedaan yang segera tampak pada anak. Dari pada mereka harus bersusah payah
mengusaia suatu keterampilan yang sangat sulit bagi mereka, dan nantinya
mungkin akan jarang butuhkan ketika beranjak dewasa, mereka dapat
berkonsentrasi untuk mempelajari keterampilan lain, dan dapat menunjukkan apa
yang mereka ketahui. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik berkenaan dengan
sekolah dan diri mereka sendiri. tidka ada alasan untuk menyangkal kesempatan
bagi seorang anak yang cerdas untuk meraih kesuksesan di sekolah. selain itu,
karena pendidikan sangatlah penting bagi masa depan anak, maka tidak sepadan resiko
membiarkan anak menjadi semakin lama semakin frustasi dan menjadi putus asa
karena pekerjaan sekolah.
Problem Kesulitan Menghitung (Dyscalculia)
Problem Kesulitan Menghitung (Dyscalculia)
Berhitung merupakan kemampuan yang digunakan dalam
kehidupan kita sehari-hari, baik ketika membeli sesuatu, membayar rekening
listrik, dan lain sebagainya. Tidak diragukan lagi bahwa berhitung merupakan
pekerjaan yang kompleks yang di dalamnya melibatkan :
Ø
membaca, menulis, dan keterampilan bahasa
lainnya.
Ø
kemampuan untuk membedakan ukuran-ukuran dan kuantitas
relatif dan obyektif.
Ø
kemampuan untuk mengenali urutan, pola, dan
kelompok.
Ø
ingatan jangka pendek untuk meningat
elemen-elemen dari sebuah soal matematika saat mengerjakan persamaan.
Ø
kemampuan membedakan ide-ide abstrak, seperti
angka-angka negatif, atau system angka yang tidk menggunkan basis sepuluh.
Meskipun banyak masalah yang mungkin turut mempengaruhi kemampuan untuk memahami, dan mencapai keberhaislan dalam pelajaran matematika. Istilah ‘dyscalculia’, biasanya mengacu pada pada suatu problem khusus dalam menghitung, atau melakukan operasi aritmatika, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Meskipun banyak masalah yang mungkin turut mempengaruhi kemampuan untuk memahami, dan mencapai keberhaislan dalam pelajaran matematika. Istilah ‘dyscalculia’, biasanya mengacu pada pada suatu problem khusus dalam menghitung, atau melakukan operasi aritmatika, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Anak yang mengalami problem
dyscalculia merupakan anak yang memiliki masalah pada kemampuan menghitung.
Anak tersebut tentunya belum tentu anak yang bodoh dalam hal yang lain, hanya
saja ia mengalami masalah dengan kemampuan menghitungnya. Untuk lebih jelas
mengenai gambaran anak yang mengalami problem dyscalculia, perhatikanlah contoh
kasus berikut.
Seorang anak bersama Jesica (sepuluh tahun, duduk
di kelas V) didapati mengalami masalah dengan mata pelajaran matematika. Nilai
matematika yang Jessica dapat selalu rendah, walaupun pada mata pelajaran lain,
nilainya baik. Lalu seorang guru memanggilnya, dan memberinya lembar kertas dan
pensil dan memintanya menyelesaikan soal berikut :Jones seorang petani memiliki
25 pohon apel dan tiap pohon menghasilkan 50 kilogram apel pertahun, berapa
kilogram apel yang dihaislkan Jones tiap tahun?. Ia berusaha keras menemukan
jawabannya tetapi tetap tidak bisa. Ketika guru bertanya bagaimana cara
menyelesaikan, ia menjawab, ia harus mengalikan 25 dengan 50, akan tetapi ia
tidak dapat menghitungnya. Kemudian guru memberinya kalkulator, dan kemudian ia
dapat menghitungnya. Inilah gambaran seorang anak yang mengalami problem
“dyscalculia”.
Kiat Mengatasi Anak Dengan Dyscalculia
Kiat Mengatasi Anak Dengan Dyscalculia
Seperti halnya problem kesulitan menulis dan
membaca, ada dua pendekatan yang mungkin : kita dapat menawarkan beberapa
bentuk penganganan matematika yang intensif, atau dengan mengambil jalan
pintas.
Pendekatan yang pertama, yaitu penanganan matematika yang intensif, dapat kita lakukan dengan teknik “individualisasi yang dibantu tim”. Pendekatan ini menggunakan pengajaran secara privat dengan teman sebaya (peer tutoring). Pendekatan ini mendasari tekniknya pada pemahaman bahwa kecepatan belajar seorang anak berbeda-beda, sehingga ada anak yang cepat menangkap, dan ada juga yang lama. Teknik ini mendorong anak yang cepat menangkap materi pelajaran agar mengajarkannya pada temannya yang lain yang mengalami problem dyscalculia tersebut.
Pendekatan yang pertama, yaitu penanganan matematika yang intensif, dapat kita lakukan dengan teknik “individualisasi yang dibantu tim”. Pendekatan ini menggunakan pengajaran secara privat dengan teman sebaya (peer tutoring). Pendekatan ini mendasari tekniknya pada pemahaman bahwa kecepatan belajar seorang anak berbeda-beda, sehingga ada anak yang cepat menangkap, dan ada juga yang lama. Teknik ini mendorong anak yang cepat menangkap materi pelajaran agar mengajarkannya pada temannya yang lain yang mengalami problem dyscalculia tersebut.
Pendekatan yang kedua, yaitu jalan pintas,
sebagaimana Jessica diberikan kalkulator untuk menghitung, maka anak dengan
problem dyscalculia ini juga dapat diberikan calculator untuk menghitung. Hal
ini sederhana karena anak dengan problem dyscalculia tidka memiliki masalah
dengan kaitan antara angka, akan tetapi lebih kepada menghitung angka-angka
tersebut.
Penutup
Penutup
Pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan,
walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda satu dengan yang lainnya.
pada tingkat pendidikan dasar berbagai kemampuan tersebut masih memiliki relasi
yang kuat, membaca, menulis, serta berhitung. Masalah yang mungkin ada pada
pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang lain. Dengan
demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang tua, ataupun
seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai yang rendah
merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita. Karena
sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami gangguan pada
salah satu kemampuan tadi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah
tersebut.
Untuk itu, yang terpenting bagi kita adalah dapat
menelaah dengan baik perkembangan anak kita. Diagnosis terhadap permasalahan
sesungguhnya yang dialami anak mutlak harus dilakukan. Dengan demikian kita
akan mengetahui kesulitan belajar apa yang dialami anak, sehingga kita dapat
menentukan alternatif pilihan bantuan bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar