Kegiatan Belajar 1
Dalam
bahan belajar mandiri pertama ini, Anda akan diperkenalkan dengan konsep Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.
Pembahasan akan difokuskan pada konsep dasar bimbingan dan konseling perkembangan;
bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar; Prinsip, Fungsi dan Azas Bimbingan;
serta Jenis, Teknik/ Strategi dan Kode Etik Bimbingan.
Setelah
Anda membaca bahan belajar mandiri ini, diharapkan Anda dapat :
1.
Merumuskan
dengan kalimat sendiri tentang konsep dasar bimbingan dan konseling.
2. Menguraikan bimbingan dan konseling di
Sekolah Dasar.
3.
Menjelaskan Prinsip, Fungsi dan Azas Bimbingan.
4. Menjelaskan Jenis, Teknik/ Strategi dan
Kode Etik Bimbingan.
Ruang
Lingkup Materi :
1.
Konsep dasar bimbingan dan konseling.
2. Pendekatan bimbingan dan konseling di
Sekolah Dasar.
3.
Prinsip, Fungsi dan Azas Bimbingan.
4. Jenis,
Teknik/ Strategi dan Kode Etik Bimbingan
Petunjuk
Belajar :
Agar Anda Memahami isi bahan belajar
mandiri ini dengan baik, perhatikan petunjuk berikut :
1. Bacalah keseluruhan isi bacaan bahasan
dalam kegiatan belajar ini secara menyeluruh terlebih dahulu.
2. Setelah itu, Anda diharapkan secara lebih
cermat dan penuh perhatian mempelajari bagian demi bagian dari kegiatan belajar
ini, dan bila perlu berilah tanda khusus pada bagian yang Anda anggap penting.
3. Apabila ada bagian yang tidak atau kurang
Anda mengerti maka berilah tanda lain dan catat dalam buku catatan Anda untuk
dapat Anda tanyakan pada waktu ada tutorial tatap muka.
4. Buatlah kesimpulan dalam kata-kata Anda
sendiri dari keseluruhan bahan yang Anda baca dalam bahan belajar mandiri ini.
5. Akhirnya kerjakanlah latihan dan tes formatif yang
tersedia.
Pendekatan Perkembangan dalam
Bimbingan
1. Konsep Dasar Bimbingan
Bimbingan merupakan sebuah istilah yang
sudah umum digunakan dalam dunia pendidikan. Bimbingan pada dasarnya merupakan
upaya bantuan untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
Selain itu bimbingan yang lebih luas dikemukan oleh Good (Thantawi, l995 : 25)
yang menjabarkan bimbingan adalah (1) suatu proses hubungan pribadi yang
bersifat dinamis, yang dimaksudkan untuk untuk mempengaruhi sikap dan perilaku
seseorang; (2) suatu bentuk bantuan yang sistematis (selain mengajar) kepada
murid, atau orang lain untuk menolong, menilai kemampuan dan kecenderungan
mereka dan menggunakan informasi itu secara efektif dalam kehidupan sehari-hari;
(3) perbuatan atau teknik yang dilakukan untuk menuntun anak terhadap suatu
tujuan yang diinginkan dengan menciptakan suatu kondisi lingkungan yang membuat
dirinya sadar tentang kebutuhan dasar, mengenal kebutuhan itu, dan mengambil
langkah-langkah untuk memuaskan dirinya.
Sementara itu, Supriadi (2004 : 207) menyatakan
bahwa yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan oleh
konselor/ pembimbing kepada klien agar klien dapat : (1) memahami dirinya, (2)
mengarahkan dirinya, (3) memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, (4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya
(keluarga, sekolah, masyarakat), (5) mengambil manfaat dari peluang-peluang
yang dimilikinya dalam rangka mengembangkan diri sesuai dengan
potensi-potensinya, sehingga berguna bagi dirinya dan masyarakatnya.
Bimbingan
dan Konseling yang berkembang saat ini adalah bimbingan dan konseling
perkembangan. Bimbingan dan Konseling perkembangan bagi anak adalah upaya
pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan,
supaya mereka dapat memahami dirinya sehingga mereka sanggup bertindak secara
wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan, keluarga dan masyarakat
serta kehidupan pada umumnya. Bimbingan membantu mereka mencapai tugas
perkembangan secara optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial dan pribadi (Nurihsan
& Sudianto, 2005 : 9).
Kebutuhan akan layanan bimbingan
di sekolah dasar muncul dari karakteristik dan masalah-masalah perkembangan
peserta didik. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan merupakan pendekatan
yang tepat digunakan di SD karena pendekatan ini lebih berorientasi pada
pengembangan ekologi perkembangan peserta didik. Konselor yang menggunakan
pendekatan perkembangan melakukan identifikasi keterampilan dan pengalaman yang
diperlukan siswa agar berhasil di sekolah dan dalam kehidupannya.
Dalam pelaksanaan bimbingan perkembangan, guru dapat
melibatkan tim kerja atau berbagai pihak yang terkait terutama orang tua siswa,
sehingga akan lebih efektif ketimbang bekerja sendiri. Bimbingan Perkembangan
dirancang secara sistem terbuka, dengan demikian penyempurnaan dan
modifikasi dapat dilakukan setiap saat
sepanjang diperlukan. Bimbingan perkembangan mengintegrasikan berbagai
pendekatan, dan orientasinya multi budaya, sehingga tidak mencabut klien dari
akar budayanya. Tidak fanatik menolak suatu teori, melainkan meramu apa yang
terbaik dari masing-masing terapi dan yang lebih penting lagi mengkaji bagaimana
masing-masing terapi bermanfaat bagi klien atau keluarga.
Bimbingan
merupakan bagian integral dari pendidikan, maka tujuan pelaksanaan bimbingan
merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan pendidikan. Tujuan Pendidikan
Nasional adalah menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan
dengan jelas dalam UU No 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan GBHN 2003,
yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti
luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh cerdas, kreatif, terampil,
berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta
sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai
semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa,
menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi masa depan.
Dari pengertian-pengertian di atas
didapatkan kunci dari bimbingan itu sendiri adalah sebagai berikut :
a. Bimbingan merupakan upaya membantu dengan
memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh klian sebagai objek
bimbingan.
b. Bimbingan dilakukan dengan cara menuntun
dan mengarahkan seseorang untuk dapat mengambil keputusan yang tepat untuk
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
c. Bimbingan diberikan kepada satu orang atau
lebih melalui tatap muka langsung.
Bertolak dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling perkembangan adalah upaya pemberian
bantuan yang dirancang dengan memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan
isu-isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan anak dan merupakan bagian
penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan.
Myrick dalam Muro & Kotman, l995 yang
diperjelas kembali oleh Sunaryo Kartadinata (1998 : 15) dan Ahman (2005 :
11-34) mengemukakan empat pendekatan dapat dirumuskan sebagai pendekatan dalam
bimbingan, yaitu pendekatan (a) krisis, (b) remedial, (c) preventif, (d)
perkembangan.
Dalam
pendekatan krisis, pembimbing menunggu munculnya suatu krisis dan dia
bertindak membantu seseorang yang menghadapi krisis itu. Teknik yang digunakan
dalam pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara “pasti” dapat mengatasi
krisis itu. Contoh : Seorang anak datang mengadu kepada guru sambil menangis
karena didorong temannya sehingga tersungkur ke lantai. Pembimbing yang
menggunakan pendekatan krisis akan meminta anak itu membicarakan penyelesaian
masalahnya dengan teman yang mendorong dia ke lantai. Bahkan mungkin pembimbing
atau guru tersebut memanggil teman anak itu untuk datang ke kantornya untuk membicarakan
penyelesaian masalah itu.
Di dalam pendekatan remedial, guru
akan memfokuskan bantuannya kepada upaya menyembuhkan atau memperbaiki
kelemahan-kelemahan yang tampak. Tujuan bantuan dari pendekatan ini ialah
menghindarkan terjadinya krisis yang mungkin terjadi. Berbagai strategi bisa
digunakan, seperti mengajarkan kepada siswa keterampilan tertentu seperti
keterampilan belajar (membaca, merangkum, menyimak, dll) , keterampilan sosial
dan sejenisnya yang belum dimiliki siswa sebelumnya. Dalam contoh kasus di
atas, dengan menggunakan pendekatan remedial, guru dapat mengambil tindakan
mengajarkan keterampilan berdamai sehingga siswa tadi memiliki keterampilan
untuk mengatasi masalah-masalah hubungan antarpribadi. Keterampilan berdamai
adalah keterampilan yang selama ini belum dimiliki kedua siswa tersebut dan
merupakan kelemahan yang bisa memunculkan krisis itu.
Pendekatan preventif mencoba mengantisipasi masalah-masalah
generik dan mencegah terjadinya masalah itu. Masalah-masalah yang dimaksud
seperti putus sekolah, berkelahi, kenakalan, merokok dan sejenisnya yang secara
potensial masalah itu dapat terjadi pada siswa secara umum. Model preventif
ini, didasarkan kepada pemikiran bahwa jika guru atau pembimbing dapat mendidik
siswa untuk menyadari bahaya dari berbagai kegiatan dan menguasai metode untuk
menghindari terjadinya masalah itu, maka pembimbing akan dapat mencegah siswa
dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan tersebut. Berbagai teknik dapat
digunakan dalam pendekatan ini termasuk mengajar dan memberikan informasi.
Dalam contoh kasus di atas, jika guru menggunakan pendekatan preventif dia akan
mengajari siswa untuk bersikap toleran dan memahami orang lain sehingga dapat
mencegah munculnya perilaku agresif, tanpa menunggu munculnya krisis terlebih dahulu.
Pendekatan perkembangan merupakan pendekatan yang lebih mutakhir
dan lebih proaktif dibandingkan dengan ketiga pendekatan sebelumnya.
Pembimbingan yang menggunakan pendekatan ini beranjak dari pemahaman tentang
keterampilan dan pengalaman khusus yang dibutuhkan siswa untuk mencapai
keberhasilan di sekolah dan di dalam kehidupan. Pendekatan perkembangan ini
dipandang sebagai pendekatan yang tepat digunakan dalam tatanan pendidikan
sekolah karena pendekatan ini memberikan perhatian kepada tahap-tahap perkembangan
siswa, kebutuhan dan minat, serta membantu siswa mempelajari keterampilan hidup
( Robert Myrick, l989). Berbagai teknik dapat digunakan dalam pendekatan ini
seperti mengajar, tukar informasi, bermain peran, melatih, tutorial, dan
konseling. Dalam contoh di atas, jika guru menggunakan pendekatan perkembangan
dia sebaiknya menangani anak tadi sejak tahun-tahun pertama masuk sekolah,
mengajari dan menyediakan pengalaman belajar bagi anak itu yang dapat
mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi yang diperlukan untuk
melakukan interaksi yang efektif dengan orang lain. Oleh karena itu, di dalam
pendekatan perkembangan, keterampilan dan pengalaman belajar yang menjadi
kebutuhan siswa akan dirumuskan ke dalam suatu kurikulum bimbingan atau
dirumuskan sebagai Layanan Dasar Umum.
Tampak bahwa di dalam pendekatan
perkembangan akan tercakup juga pendekatan-pendekatan lain. Pembimbing yang
melaksanakan pendekatan perkembangan sangat mungkin juga melakukan intervensi
krisis, pekerjaan remedial, mengembangkan program pencegahan, dan menggunakan
kurikulum bimbingan yang yang komprehensif. Upaya bantuan yang diberikan
terarah kepada pengembangan seluruh aspek perkembangan yang mencakup pribadi,
sosial, akademik dan karir.
Ada pola umum dalam proses perkembangan
siswa. Oleh karena itu, perkembangan berlangsung dalam tata urutan tertentu.
Dalam teori psikologi, tata urutan itu dirumuskan sebagai tugas-tugas
perkembangan. Tugas perkembangan diartikan sebagai perangkat perilaku yang
harus dikuasai siswa dalam periode kehidupan tertentu, di mana keberhasilan
menguasai perangkat perilaku pada periode kehidupan tersebut akan mendasari
keberhasilan penguasaan perangkat perilaku dalam periode berikutnya; sedangkan
kegagalan menguasai perangkat perilaku dalam periode kehidupan sebelumnya akan membawa siswa ke
dalam kekecewaan, penolakan masyarakat, dan kesulitan di dalam menguasai
perangkat perilaku pada periode kehidupannya berikutnya. Contoh sederhana ialah
bahwa keterampilan membaca, menulis, dan berhitung sudah harus dikuasai siswa
pada kelas-kelas awal. Keberhasilan siswa menguasai keterampilan dasar ini akan
mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari mata-mata pelajaran
kelas-kelas yang lebih tinggi. Sedangkan kegagalan siswa dalam menguasai hal
tersebut akan menimbulkan kesulitan dan kekecewaan siswa dalam mempelajari atau
menguasai mata pelajaran di kelas-kelas yang lebih tinggi. Bahkan lebih jauh
dari itu, kegagalan tadi bisa membawa kepada munculnya perilaku bermasalah pada
siswa. Perkembangan pada usia siswa SD terarah kepada pemerolehan perilaku yang
berkaitan dengan sikap, kebiasaan, dan kesadaran akan keberadaan dirinya
sebagai bagian dari lingkungan dan memiliki kecakapan tertentu yang berbeda
dari orang lain.
Dalam pendekatan perkembangan, perolehan
perilaku yang diharapkan terbentuk pada siswa perlu dirumuskan secara
komprehensif dan rumusan itu akan menjadi dasar bagi pengembangan program
bimbingan. Esensi strategi untuk membantu siswa mengembangkan dan menguasai
perilaku yang diharapkan tersebut terletak pada pengembangan lingkungan
belajar, yakni lingkungan yang memungkinkan siswa memperoleh perilaku baru
yang lebih efektif. Di dalam lingkungan belajar inilah dikembangkan peluang,
harapan, pemahaman, persepsi yang memungkinkan siswa memperkuat dan memenuhi
kebutuhan dan motif dasar mereka, atau mungkin mendorong siswa untuk mengubah
atau menyesuaikan kebutuhan dan motif dasar kepada perilaku dan nilai-nilai
yang berkembang di dalam lingkungan belajar. Di dalam konsep bimbingan
perkembangan lingkungan belajar seperti digambarkan di atas dirumuskan ke dalam
konsep lingkungan perkembangan manusia atau ekologi perkembangan
manusia.
Dalam
suatu lingkungan perkembangan akan mengandung unsur-unsur berikut :
Pertama,
unsur peluang. Unsur ini berkaitan dengan topik yang disajikan yang
memungkinkan siswa mempelajari perilaku-perilaku baru. Di sekolah dasar keterpaduan
topik seperti ini lebih diutamakan mengingat pelaksanaan layanan bimbingan akan
lebih banyak terpadu dengan proses pembelajaran. Hal ini mengandung implikasi
bahwa tujuan dan topik-topik yang terkandung dalam kurikulum yang sudah
diorganisasikan harus maksimal dan dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan akademik
dan tujuan pengembangan pribadi, sosial, karir, keterampilan komunikasi,
kemampuan pemecahan masalah, pemecahan konflik, pengembangan konsep diri, dan
aspek-aspek lainnya.
Kedua,
unsur pendukung. Unsur ini berkaitan dengan proses pengembangan
interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk mempelajari perilaku
baru baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan kata lain,
unsur pendukung ini berkaitan dengan upaya guru dalam pengembangan ; (1) relasi
jaringan kerja yang bisa menyentuh siswa dan memungkinkan siswa mengembangkan
kemampuannya, dan (2) keterlibatan seluruh siswa di dalam proses interaksi.
Ketiga,
unsur penghargaan. Esensi unsur ini terletak pada penilaian dan
pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukkan perilaku baru. Penilaian
dan balikan ini perlu dilakukan sepanjang proses bimbingan berlangsung;
diagnosis dilakukan untuk mengidentifikasikan kesulitan yang dihadapi siswa,
dan perbaikan serta penguatan (reinforcement), dilakukan untuk membentuk
pola-pola baru yang diutarakan pada unsur peluang di atas.
Agar
pengembangan lingkungan belajar dan layanan bimbingan dapat diberikan secara
sistematik perlu dikembangkan atau dirumuskan program bimbingan.
2. Asumsi BK Perkembangan
Model bimbingan
perkembangan memungkinkan konselor untuk memfokuskan tidak sekedar terhadap
gangguan emosional klien, melainkan lebih
mengupayakan pencapaian tujuan dalam kaitan penguasaan tugas-tugas
perkembangan, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu, dan
meningkatkan sumberdaya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola
perkembangan yang optimal dari klien (Blocher, 1974:79).
Pendekatan
ini juga memiliki asumsi bahwa potensi individu merupakan aset yang berharga
bagi kemanusiaan. Dorongan dari dalam ini memerlukan kesepakatan dengan kekuatan
dalam lingkungan. Pengembangan kemanusiaan merupakan interaksi individual
dimana ia berpijak dengan peraturan, perundangan, dan nilai-nilai yang saling
melengkapi.
Menurut
Blocher (1974:5) asumsi dasar bimbingan perkembangan, yaitu perkembangan
individu akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan
lingkungannya. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan
bimbingan di sekolah:
1. Perkembangan adalah tujuan
bimbingan; oleh karena itu para petugas bimbingan di sekolah perlu memiliki
suatu kerangka berpikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai
dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan.
2. Interaksi yang sehat merupakan suatu
iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh petugas bimbingan. Oleh karena
itu, petugas bimbingan perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus
untuk mengembangkan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem peluncuran
bimbingan di sekolah (Sunaryo Kartadinata, 1996:10).