Minggu, 03 Juni 2012

KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS

Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata "managemen" asal kata dari Bahasa Inggris yang diindonesiakan menjadi "manajemen" atau menejemen. Di dalam kamus umum Bahasa Indonesia (1958:412), disebutkan bahwa pengelolaan berarti
penyelenggaraan. Dilihat dari asal kata "manajemen" dapat disimpulkan bahwa pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
Pengelolaan diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan kegiatan-kegiatan orang lain (Oemar Hamalik, 1986: 18).
Sebelum kita membicarakan definisi pengelolaan kelas terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa sebenamya yang dimaksud dengan kelas. 
1)    Kelas dalam arti sempit yaitu ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. Kelas dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokkan siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologisnya masing-masing.
2)    Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
Ditinjau dari sudut pandang didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas yakni kelas adalah sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.
Dengan batasan tersebut di atas, yang dimaksudkan kelas itu adalah sistem pengajaran klasikal dalam pelaksanaan pengajaran secara tradisional.
Kelas merupakan bagian atau unit sekolah terkecil. Penggunaan istilah "Unit" mengandung suatu pengertian bahwa kelas mempunyai ciri yang khusus dan spesifik, maksudnya setiap kelas akan memiliki suasana yang berbeda atau kondisi yang berbeda satu sama lain.
Contoh:
Salah satu SD mempunyai kelas paralel terdiri dari kelas A, B, (kelas 1 s.d. VI). Masingmasing Kelas keadaannya berbeda, misalnya kelas VA,VB,danVC. Kelas VA yang siswa-siswanya tidak ada gairah dan semangat belajar, kelas VB merupakan kelas yang selalu gaduh dan membuat onar tetapi prestasinya rendah, sedangkan kelas VC Merupakan kelas yang menyenangkan, siswa-siswanya aktif dan kompak dalam belajar sehingga prestasinya menonjol diantara kedua kelas tadi.
Dari uraian di atas, maka yang dimaksud dengan pengertian pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang diharapkan.Atau pengelolaan kelas adalah suatu keterampilan untuk bertindak dari seorang
guru berdasarkan atas sifat-sifat kelas dengan tujuan menciptakan situasi pembelajaran kearah yang lebih baik.
Definisi-definisi Pengelolaan kelas
1.     Menurut Lois V, Johnson dan Mary A. Bani (Claaroom Management), yang diikhtisarkan oleh Dr. Made Pidarta, 1970.
a.   Pengelolaan kelas ditinjau dari konsep lama adalah mempertahankan ketertiban kelas.
b.   Pengelolaan kelas ditinjau dari konsep modern adalah proses seleksi dan
penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas.
2.    J.M. Cooper (1977), mengemukakan 5 pengelompokkan definisi pengelolaan kelas, yaitu:
a.   Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat "Otoratif". Kaitannya dengan tugas guru adalah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin sangat diutamakan.
b.   Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Definisi ini didasarkan atas pandangan yang bersifat "permisif'. Kaitannya dengan  tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa, maksudnya guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan yang ingin dilakukannya.
c.    Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tijdak diinginkan.
Definisi ketiga ini didasarkan pada prinsip-prinsip mengubahan tingkah taku (behavioral modification), dan memandang pengelolaan kelas sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Guru di sini berfungsi sebagai pembantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang diharapkan melalui prinsip reinforcement (penguatan).
d.   Pergelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional kelas yang positif. Definisi keempat ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim
sosioemosional yang positif di dalam kelas. Definisi ini beranggapan, bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal
di dalam kelas yang beriklim positif yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
e.    Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Definisi kelima ini mengangap kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group proses) sebagai intinya. pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok, tetapi belajar dianggap proses individual, maka kehidupan kelas dalam kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang sangat berarti terhadap kegiatan belajar. Tugas guru di sini adalah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. 

Tiga di antara lima definisi di atas yaitu: pandangan tentang pengubahan tingkah laku. Iklim sosioemosional, dan proses kelompok, masing-masing berangkat dari dasar pandangan yang berbeda tetapi memiliki unsur-unsur yang efektif apabila diterapkan untuk pengelolaan
kelas sehingga bermanfaat bagi guru untuk membentuk satu pandangan yang bersifat "Prulalistik", yaitu pandangan yang merangkum ketiga dasar pandangan tersebut di atas.
Definisi pengelolaan kelas yang dikemukakan berdasarkan atas pandangan "Pluralistik' menganggap pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkantingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosioemosional yang
positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.
Dalam kegiatan sehari-hari seorang guru akan menghadapi kasus-kasus dalam kelasnya. Misalnya dalam hal pengaturan siswa, yang dapat dikelompokan menjadi dua masalah, yaitu masalah individu/perorangan dan masalah kelompok. Agar dalam melaksanakan pengelolaan kelas secara efektif dan tepat guna, maka guru harus rnengidentifikasikan kedua masalah tersebut, tetapi tak kalah pentingnya dari kedua masalah tersebut adalah
masalah organisasi sekolah.
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik di tingkat kelas maupun pada tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Pengaruh organisasi sekolah dipandang cukup menentukan dalam pengarahan perilaku siswa. Pengaturan atau pengorganisasian kelas hendaknya sering diadakan perubahan. Hal ini untuk mencegah kejenuhan bagi siswa-siswa selama mengikuti kegiatan belajar, selain itu juga hendaknya
disesuaikan dengan bahan pengajaran yang diberikan. 
Adapun kasus-kasus yang dijumpai guru dalam pengelolaan kelas antara lain, seperti:
a)   Tingkat penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas.
Misalnya, materi yang diberikan kepada siswa terlalu tinggi atau sulit sehingga tidak
bisa diikuti oleh siswa, maka di sini diperlukan penyesuaian agar siswa dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik. Apabila tidak diadakan penyesuaian, siswa-siswa tidak akan serius dan selalu menimbulkan kegaduhan.
b)    Fasilitas yang diperlukan,
Misalnya, alat, media, bahan, tempat, biaya, dan lain-lain, akan memungkinkan siswa belajar dengan baik
c)    Kondisi siswa
Misalnya, siswa yang kelihatan sudah lesu dan tidak bergairah dalam menerima peiajaran, hal ini dapat mempengaruhi situasi kelas.
d)   Teknik mengajar guru
Misalnya, dalam memberikan pengajaran kurang menggairahkan suasana kelas dan menjemukan.
 
 Pengelompokan Masalah dalam Pengelolaan kelas

a. Masalah Pengelolaan Kelas
Masalah pergelolaan kelas dapat di kelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok.
Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, dan dapat memilih strategi penanggulangannya dengan tepat pula.
b. Masalah Individu/Perorangan
Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassell (Noorhadi,1985:5), mengemukakan bahwa semua tingkah laku individual merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan kebutuhan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan, kemungkinan akan terjadi beberapa tindakan siswa
yang dapat digolongkan menjadi: 
1.     Tingkah-Iaku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain (attention getting behavior), misalnya membadut di dalam kelas (aktif), atau dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif).
2.    Tingkah-Iaku yang ingin merujukan kekuatan (power seeking behaviours), misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional, seperti marah-marah, menangis atau selalu "Iupa" pada aturan penting di kelas (pasif).
3.    Tingkah-Iaku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors), misalnya menyakiti orang lain seperti mengata-ngatai, memukul, menggigit dan sebagainya (kelompok ini nampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif atau pasif).
4.    Peragaan ketidakmampuan (displaying indequacy) yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya.

Keempat tindakan yang dilakukan individu tersebut di atas dapat diistilahkan menjadi:
- Pola aktif yang konstruktif
- Pola aktif yang distruktif
- Pola pasif yang konstruktif
- Pola pasif yang distruktif

c. Masalah Kelompok
Masalah ini merupakan yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas. Masalah kelompok akan muncul apabila tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas frustasi atau lemas dan akhirnya siswa menjadi anggota kelompok bersifat pasif, acuh, tidak puas dan belajarnya terganggu. Apabila kebutuhan kelompok ini terpenuhi, anggotanya akan aktif, puas, bergairah dan belajar dengan baik. 
Lois V Johnson dan Mary A Bany mengemukakan ciri-ciri kelompok dalam kelas: 
a.    Kesatuan kelompok
Kesatuan kelompok memegang peranan penting dalam mempengaruhi anggotaanggotanya bertingkah laku.
b.    Interaksi dan komunikasi
Interaksi terjadi dalam komunikasi, kalau beberapa orang anggota mempunyai pendapat tertentu, maka terjadilah komunikasi dalam kelompok dan diteruskan dengan interaksi membahas, pendapat tersebut, yang sering disertai dengan emosi yang mempekuat interaksi.
c.    Struktur kelompok
Struktur informal dalam kelompok dapat mempengaruhi struktur formal, bila selalu ditempatkan pada posisi yang tinggi hal ini dapat merusak keakraban kelompok.
d.   Tujuan-tujuan kelompok.
Apabila tujuan-tujuan kelompok ditentukan bersama oleh siswa dalam hubungan dengan tujuan pendidikan maka anggota-anggota kelompok akan bekerja lebih produktif menyelesaikan tugasnya. Dengan kata lain siswa akan bekerja dengan baik apabila hal itu berhubungan dengan tujuan-tujuan mereka.
e.    Kontrol
Hukum-hukum yang diciptakan bersama bagi siswa yang melanggar, mungkin dapat memperkecil pelanggaran, akan tetapi beberapa soal tetap atau tidak tetap akan tidak dapat belajar dengan baik, hal ini merupakan masalah baru.
f.     Iklim Kelompok
Iklim Kelompok adalah hasil dari aspek-aspek yang saling berhubungan dalam kelompok. Iklim kelompok ditentukan oleh tingkah keakraban kelompok, sebagai hasil dari aspek-aspek tersebut di atas. 
d. Masalah organisasi
Sekolah sebagai organisasi sosial dan sebagai sub sistem dari sistem sosial yang lebih luas termasuk sistem persekolahan nasional. Pengaruh organisasi sekolah dipandang cukup menentukan dalam pengarahan peri/aku siswa.
Dengan kata lain guru dan siswa dipengaruhi oleh organisasi sekolah secara keseluruhan, termasuk cara pengelompokan, kurikulum, rencana fisik, peraturan-peraturan, nilai sikap dan tindakan.
Kebijaksanaan dan peraturan sekolah memberi refleksi kepada sikap nilai, organisasi, tujuan dan peri/aku siswa dalam kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan dikomunikasikan kepada seluruh siswa secara terbuka, maka akan menyebabkan tertanam
pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik dan keteraturan tingkah laku.
Adapun kegiatan-kegiatan rutin yang sudah diatur tersebut antara lain berupa:
1.    Penggantian pelajaran, hal rutin semacam ini hendaknya diatur secara tertib.
2.    Guru yang berhalangan hadir oleh satu atau lain hal maka siswa harus sudah mengetahui cara mengatasinya.
3.    Masalah antara siswa, dapat dipecahkan bersama-sama dengan guru (wakilkelas/ketua kelas/ketua OSIS).
4.    Upacara bendera
5.    Dan kegiatan lainnya yang harus diatur secara jelas tidak kaku dan harus fleksibel.