Pengelolaan
merupakan terjemahan dari kata "managemen" asal kata dari Bahasa
Inggris yang diindonesiakan menjadi "manajemen" atau menejemen. Di
dalam kamus umum Bahasa Indonesia (1958:412), disebutkan bahwa pengelolaan
berarti
penyelenggaraan.
Dilihat dari asal kata "manajemen" dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola
dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
Pengelolaan
diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam
rangka pencapaian tujuan kegiatan-kegiatan orang lain (Oemar Hamalik, 1986:
18).
Sebelum
kita membicarakan definisi pengelolaan kelas terlebih dahulu kita perlu
mengetahui apa sebenamya yang dimaksud dengan kelas.
1) Kelas
dalam arti sempit yaitu ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah
siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. Kelas dalam pengertian
tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokkan
siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain didasarkan pada batas
umur kronologisnya masing-masing.
2) Kelas
dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat
sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai
suatu tujuan.
Ditinjau
dari sudut pandang didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas yakni
kelas adalah sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama
dari guru yang sama.
Dengan
batasan tersebut di atas, yang dimaksudkan kelas itu adalah sistem pengajaran klasikal
dalam pelaksanaan pengajaran secara tradisional.
Kelas
merupakan bagian atau unit sekolah terkecil. Penggunaan istilah
"Unit" mengandung suatu pengertian bahwa kelas mempunyai ciri yang
khusus dan spesifik, maksudnya setiap kelas akan memiliki suasana yang berbeda
atau kondisi yang berbeda satu sama lain.
Contoh:
Salah satu SD mempunyai kelas paralel
terdiri dari kelas A, B, (kelas 1 s.d. VI). Masingmasing Kelas keadaannya berbeda,
misalnya kelas VA,VB,danVC. Kelas VA yang siswa-siswanya tidak ada gairah dan semangat
belajar, kelas VB merupakan kelas yang selalu gaduh dan membuat onar tetapi prestasinya
rendah, sedangkan kelas VC Merupakan kelas yang menyenangkan, siswa-siswanya aktif
dan kompak dalam belajar sehingga prestasinya menonjol diantara kedua kelas tadi.
Dari
uraian di atas, maka yang dimaksud dengan pengertian pengelolaan kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan
maksud agar tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar
sebagaimana yang diharapkan.Atau pengelolaan kelas adalah suatu keterampilan
untuk bertindak dari seorang
guru
berdasarkan atas sifat-sifat kelas dengan tujuan menciptakan situasi
pembelajaran kearah yang lebih baik.
Definisi-definisi
Pengelolaan kelas
1.
Menurut Lois V, Johnson dan Mary A.
Bani (Claaroom Management), yang diikhtisarkan oleh Dr. Made Pidarta, 1970.
a.
Pengelolaan kelas ditinjau dari konsep
lama adalah mempertahankan ketertiban kelas.
b.
Pengelolaan kelas ditinjau dari konsep
modern adalah proses seleksi dan
penggunaan alat-alat yang tepat
terhadap problema dan situasi kelas.
2. J.M.
Cooper (1977), mengemukakan 5 pengelompokkan definisi pengelolaan kelas, yaitu:
a.
Pengelolaan kelas adalah seperangkat
kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi
ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa.
Pandangan ini bersifat "Otoratif". Kaitannya dengan tugas guru adalah
menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin sangat
diutamakan.
b.
Pengelolaan kelas adalah seperangkat
kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Definisi ini didasarkan atas
pandangan yang bersifat "permisif'. Kaitannya dengan tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan
kebebasan siswa, maksudnya guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan
yang ingin dilakukannya.
c.
Pengelolaan kelas adalah seperangkat
kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan
mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tijdak diinginkan.
Definisi ketiga ini didasarkan pada
prinsip-prinsip mengubahan tingkah taku (behavioral modification), dan
memandang pengelolaan kelas sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Guru
di sini berfungsi sebagai pembantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang
diharapkan melalui prinsip reinforcement (penguatan).
d.
Pergelolaan kelas adalah seperangkat
kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim
sosioemosional kelas yang positif. Definisi keempat ini memandang pengelolaan
kelas sebagai proses penciptaan iklim
sosioemosional yang positif di dalam
kelas. Definisi ini beranggapan, bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara
maksimal
di dalam kelas yang beriklim positif
yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan
siswa dengan siswa.
e. Pengelolaan
kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan
organisasi kelas yang efektif.
Definisi kelima ini mengangap kelas
merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group proses) sebagai intinya.
pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok, tetapi belajar
dianggap proses individual, maka kehidupan kelas dalam kelompok dipandang
mempunyai pengaruh yang sangat berarti terhadap kegiatan belajar. Tugas guru di
sini adalah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang
efektif.
Tiga
di antara lima definisi di atas yaitu: pandangan tentang pengubahan tingkah
laku. Iklim sosioemosional, dan proses kelompok, masing-masing berangkat dari
dasar pandangan yang berbeda tetapi memiliki unsur-unsur yang efektif apabila
diterapkan untuk pengelolaan
kelas
sehingga bermanfaat bagi guru untuk membentuk satu pandangan yang bersifat "Prulalistik",
yaitu pandangan yang merangkum ketiga dasar pandangan tersebut di atas.
Definisi
pengelolaan kelas yang dikemukakan berdasarkan atas pandangan
"Pluralistik' menganggap pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan
untuk mengembangkantingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau
meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan
interpersonal dan iklim sosioemosional yang
positif
serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.
Dalam
kegiatan sehari-hari seorang guru akan menghadapi kasus-kasus dalam kelasnya. Misalnya dalam hal pengaturan siswa,
yang dapat dikelompokan menjadi dua masalah, yaitu masalah individu/perorangan dan masalah
kelompok. Agar dalam melaksanakan pengelolaan
kelas secara efektif dan tepat guna, maka guru harus rnengidentifikasikan kedua masalah tersebut, tetapi tak
kalah pentingnya dari kedua masalah tersebut adalah
masalah
organisasi sekolah.
Kegiatan
rutin yang secara organisasional dilakukan baik di tingkat kelas maupun pada tingkat
sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Pengaruh organisasi sekolah
dipandang cukup menentukan dalam pengarahan perilaku siswa. Pengaturan atau pengorganisasian
kelas hendaknya sering diadakan perubahan. Hal ini untuk mencegah kejenuhan
bagi siswa-siswa selama mengikuti kegiatan belajar, selain itu juga hendaknya
disesuaikan
dengan bahan pengajaran yang diberikan.
Adapun
kasus-kasus yang dijumpai guru dalam pengelolaan kelas antara lain, seperti:
a) Tingkat
penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas.
Misalnya, materi yang diberikan kepada
siswa terlalu tinggi atau sulit sehingga tidak
bisa diikuti oleh siswa, maka di sini
diperlukan penyesuaian agar siswa dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik.
Apabila tidak diadakan penyesuaian, siswa-siswa tidak akan serius dan selalu menimbulkan
kegaduhan.
b) Fasilitas
yang diperlukan,
Misalnya, alat, media, bahan, tempat,
biaya, dan lain-lain, akan memungkinkan siswa belajar dengan baik
c) Kondisi
siswa
Misalnya, siswa yang kelihatan sudah
lesu dan tidak bergairah dalam menerima peiajaran, hal ini dapat mempengaruhi
situasi kelas.
d) Teknik
mengajar guru
Misalnya, dalam memberikan pengajaran
kurang menggairahkan suasana kelas dan menjemukan.
Pengelompokan Masalah dalam Pengelolaan kelas
a.
Masalah Pengelolaan Kelas
Masalah
pergelolaan kelas dapat di kelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual
dan masalah kelompok.
Tindakan
pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan
tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, dan dapat memilih strategi penanggulangannya
dengan tepat pula.
b.
Masalah Individu/Perorangan
Rudolf
Dreikurs dan Pearl Cassell (Noorhadi,1985:5), mengemukakan bahwa semua tingkah
laku individual merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan kebutuhan untuk
diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri. Akibat tidak
terpenuhinya kebutuhan, kemungkinan akan terjadi beberapa tindakan siswa
yang
dapat digolongkan menjadi:
1. Tingkah-Iaku
yang ingin mendapatkan perhatian orang lain (attention getting behavior),
misalnya membadut di dalam kelas (aktif), atau dengan berbuat serba lamban
sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif).
2.
Tingkah-Iaku yang ingin merujukan
kekuatan (power seeking behaviours), misalnya selalu mendebat atau kehilangan
kendali emosional, seperti marah-marah, menangis atau selalu "Iupa"
pada aturan penting di kelas (pasif).
3. Tingkah-Iaku
yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors), misalnya
menyakiti orang lain seperti mengata-ngatai, memukul, menggigit dan sebagainya
(kelompok ini nampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif atau pasif).
4. Peragaan
ketidakmampuan (displaying indequacy) yaitu dalam bentuk sama sekali menolak
untuk mencoba melakukan apapun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang
menjadi bagiannya.
Keempat
tindakan yang dilakukan individu tersebut di atas dapat diistilahkan menjadi:
-
Pola aktif yang konstruktif
-
Pola aktif yang distruktif
-
Pola pasif yang konstruktif
-
Pola pasif yang distruktif
c.
Masalah Kelompok
Masalah
ini merupakan yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas. Masalah kelompok
akan muncul apabila tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas frustasi
atau lemas dan akhirnya siswa menjadi anggota kelompok bersifat pasif, acuh,
tidak puas dan belajarnya terganggu. Apabila kebutuhan kelompok ini terpenuhi,
anggotanya akan aktif, puas, bergairah dan belajar dengan baik.
Lois
V Johnson dan Mary A Bany mengemukakan ciri-ciri kelompok dalam kelas:
a. Kesatuan
kelompok
Kesatuan kelompok memegang peranan
penting dalam mempengaruhi anggotaanggotanya bertingkah laku.
b. Interaksi
dan komunikasi
Interaksi terjadi dalam komunikasi,
kalau beberapa orang anggota mempunyai pendapat tertentu, maka terjadilah
komunikasi dalam kelompok dan diteruskan dengan interaksi membahas, pendapat
tersebut, yang sering disertai dengan emosi yang mempekuat interaksi.
c. Struktur
kelompok
Struktur informal dalam kelompok dapat
mempengaruhi struktur formal, bila selalu ditempatkan pada posisi yang tinggi
hal ini dapat merusak keakraban kelompok.
d.
Tujuan-tujuan kelompok.
Apabila tujuan-tujuan kelompok
ditentukan bersama oleh siswa dalam hubungan dengan tujuan pendidikan maka
anggota-anggota kelompok akan bekerja lebih produktif menyelesaikan tugasnya.
Dengan kata lain siswa akan bekerja dengan baik apabila hal itu berhubungan
dengan tujuan-tujuan mereka.
e. Kontrol
Hukum-hukum yang diciptakan bersama
bagi siswa yang melanggar, mungkin dapat memperkecil pelanggaran, akan tetapi
beberapa soal tetap atau tidak tetap akan tidak dapat belajar dengan baik, hal
ini merupakan masalah baru.
f. Iklim
Kelompok
Iklim Kelompok adalah hasil dari
aspek-aspek yang saling berhubungan dalam kelompok. Iklim kelompok ditentukan
oleh tingkah keakraban kelompok, sebagai hasil dari aspek-aspek tersebut di
atas.
d.
Masalah organisasi
Sekolah
sebagai organisasi sosial dan sebagai sub sistem dari sistem sosial yang lebih
luas termasuk sistem persekolahan nasional. Pengaruh organisasi sekolah
dipandang cukup menentukan dalam pengarahan peri/aku siswa.
Dengan
kata lain guru dan siswa dipengaruhi oleh organisasi sekolah secara
keseluruhan, termasuk cara pengelompokan, kurikulum, rencana fisik,
peraturan-peraturan, nilai sikap dan tindakan.
Kebijaksanaan
dan peraturan sekolah memberi refleksi kepada sikap nilai, organisasi, tujuan dan
peri/aku siswa dalam kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara
jelas dan dikomunikasikan kepada seluruh siswa secara terbuka, maka akan
menyebabkan tertanam
pada
diri setiap siswa kebiasaan yang baik dan keteraturan tingkah laku.
Adapun
kegiatan-kegiatan rutin yang sudah diatur tersebut antara lain berupa:
1.
Penggantian pelajaran, hal rutin
semacam ini hendaknya diatur secara tertib.
2. Guru
yang berhalangan hadir oleh satu atau lain hal maka siswa harus sudah mengetahui
cara mengatasinya.
3. Masalah
antara siswa, dapat dipecahkan bersama-sama dengan guru (wakilkelas/ketua
kelas/ketua OSIS).
4. Upacara
bendera
5. Dan
kegiatan lainnya yang harus diatur secara jelas tidak kaku dan harus fleksibel.